hari ini :
 
   Jurusan Ilmu Tanah
Pengurus
Jurnal Tanah dan Air
H I M I T A
Dosen
Visi dan Misi
Prospek Sarjana

   Interaktif
Buku Tamu
Kirim Artikel
Klinik Lahan

   A L B U M
Kegiatan Mahasiswa
Kegiatan Alumni
Pusat Studi Lahan
LIPI-CNHM-SC
KLH - Pemberdayaan Masyarakat
Kun in act

   Berita
Informasi
ngerumpi
Lowongan Kerja & Beasiswa

   


UPNVY: Saatnya membangun CONDONG-CATUR SCHOOL OF THOUGHT (MAHZAB PEMIKIRAN CONDONG-CATUR) **
Selasa, 06 Mei 08 - oleh : admin

Oleh: Ferizal Ramli***

Saatnya membangun Condong-Catur School of Thought --- Mahzab Pemikiran Condong Catur (UPNVY) untuk menyelesaikan persoalan bangsa…
Apa potensi terbesar bangsa Indonesia saat ini yang tersia-siakan? Surplus SDA (Sumber Daya Alam) yang tidak efektif! Kita punya Minyak, Tambang, Gas Alam, dan kekayaan alam lainnya tapi kita gagal memanfaatkannya. Justru Amerika dengan Freeport-nya atau perusahaan minyak asing yang "menggoreng" SDA untuk diangkut ke negara mereka.Rakyat kita gigit jari.Mestinya,
UPNVY tidak boleh membiarkan ini terjadi. Mestinya kita menjadi garda terdepan yang berjuang agar ini tidak boleh terjadi lagi. Enough is enough! Kekayaan Alam tidak boleh lagi jatuh ke tangan asing. Sesuai dengan visi kita sebagai kampus pionir, sudah saatnya UPN menjadi pionir diskursus level nasional untuk "mengatur" isu-2tentang kebijakan Surplus SDA.
Sudah saatnya, mulai sekarang kita membangun tradisi dan mahzab pemikiran akademik baru buat negeri kita yaitu: CONDONG-CATUR SCHOOL OF THOUGHT atau MAHZAB PEMIKIRAN CONDONG CATUR yang akan dijadikan alternatif berpikir dan menjadi pesaing utama dari mahzab-2 PTN mapan seperti: Bulaksumur School of Thought (UGM), Salemba School of Thought (UI) atau Ganesha School of Thought (ITB).

Sebelum saya menulis tentang Condong-Catur School of Thought maka ijinkan saya flashback dengan berbagai school of thought universitas-2 besar dunia…

XXX

Jika di Jerman ada yang namanya Frankfurt School of Thought, Universität Frankfurt yang terkenal dengan teori sosiologi kritisnya Jürgen Habbermas. Ada juga Humboldt School of Thought dari Universität Berlin dan Heidelberg School of Thought, Universität Heidelberg yang kedua universität inilah yang memperkenalkan pertama kali pada dunia tradisi universitas riset. Kemudian seluruh universitas di Jerman mencontohnya. Akhirnya, Jerman paling terkenal sebagai universitas yang mempunyai tradisi riset terbaik. The Economist menyebutnya sebagai „ Die Deutsche Forschung Universität" --- German Research University. Di Jerman pula asal muasal berkembangnya teori sosialogi kritis dan ekonomi sosialis yang mempengaruhi dunia...

Kalau di Inggris ada Cambridge School of Thought dan Oxford School of Thought yang menjadi tradisi awal sistem belajar-mengajar di universitas secara terstruktur. Kemudian tradisi sistem belajar-mengajar terstruktur universitas di Inggris ini dicontoh oleh dunia. The Economist menyebutnya sebagai tradisi „The British Residential University". Selain itu ada juga jaringan laba-laba The great University of London sebagai jaringan intelektual terbesar di dunia. Di tangan para akademisi Inggris inilah diperkenalkan pada kita teori sosiologi positivisme dan ekonomi kapitalisme yang mempengaruhi dunia...

Lalu oleh Harvard University, kedua tradisi tersebut: "Die Deutsche Forschung Universität" dan "The British Residential University" digabung menjadi bagian inherent dari Harvard School of Thought yang
disebut tradisi hybrid. Kemudian tradisi "hybrid" tersebut dikembangkan di seluruh universitas di Amerika. Oleh Amerika, tradisi tradisi hybrid tsb di-ekspor ke seluruh Asia dan dunia. Di Asia,
kecuali Jepang, nyaris semua universitas mencontoh tradisi Hybrid dari universitas- universitas di Amerika yaitu menggabungkan antara sistem belajar mengajar terstruktur dengan sistem riset.

Akhirnya, dapat dikatakan universitas di seluruh dunia ini hanya dipengaruhi oleh 5 Universitas besar yaitu: Universitas Berlin, Universitas Heidelberg, Universitas Cambridge, Universitas Oxford dan
Universitas Harvard. Lantas apa yang dapat kita petik dari kasus ini? Satu hal yang pasti, tradisi akademik dan mahzab pemikiran itu bisa mempengaruhi "hitam putih"-nya dunia. Bayangkan, tradisi pengembangan ilmu hampir seluruh universitas di dunia ini dipengaruhi oleh 5 universitas saja!

Jadi, tidak berkeingankah kita (sivitas akademika) dari UPNVY juga membangung tradisi pemikiran yang dapat mempengaruhi "hitam putih"-nya kehidupan mininal untuk Indonesia kita tercinta?

XXX

Lantas bagaimana dengan Mahzab pemikiran di Indonesia?

Di Indonesia sampai saat ini tradisi akademiknya masih didominasi oleh 3 universitas besar (the Three Musketeer): Bulaksumur School of Thought, Salemba School of Thought dan Ganesha School of Thought. Memang ada beberapa universitas swasta yang memaksakan diri dengan menghalalkan segala cara untuk mengalahkan ketiga universitas besar tersebut salah satunya Universitas Pelita Harapan (UPH). Tapi alih-2 mengalahkan, UPH dengan group Lippo-nya malah melakukan kebohongan
publik yang luar biasa dengan melakukan penipuan ranking ke masyarakat yang akhirnya kita kenal sebagai "Buble Information PTS Konglomerat" .

Terlepas dengan skandal ranking "bohong" UPH, benarkah universitas swasta tidak bisa mengalahkan dominasi 3 besar PTN diatas? Saya pribadi optimis bisa. Bahkan sangat bisa. Bagi saya UPNVY (Kampus kita tercinta) adalah pesaing terkuat dari the Three Musketeer besar tersebut. Kita paling punya peluang mengalahkan mereka (ITB, UGM, UI) dibandingkan misalkan UII (yang kuat di FE dan FH) atau Trisakti (yang kuat dalam top of mind, sebagai universitas swasta paling tua) atau uBinus (yang kuat di IT) atau Unpar (yang kuat di Sipil dan Arsitek).

Kenapa UPNVY memiliki peluang paling besar mengalahkan ke-3 PTN besar tsb dibandingkan UII, Trisakti, Binus, Unpar misalkan? Karena sebenarnya kekuatan negara Indonesia adalah pada surplus SDA. Kita kaya SDA tapi kita gagal memanfaatkanya. Kita selalu didikte oleh para perusahaan multi nasional pertambangan saat melakukan kontrak kerja. Ini masalah besar, tapi sampai saat ini The Top Big-3 PTN Indonesia gagal memahami persolan ini.

UGM begitu asyik dengan ekonomi kerakyatannya. UI begitu asyik dengan teori kapitalisnya. ITB begitu fokus dengan struktur industrinya. Jadi, persoalan surplus SDA itu lepas dari pengamatan ke-3 Universitas besar tadi. Sementara justru di titik inilah sebenarnya kekuatan utama UPNVY. Dan di titik inilah potensi terbesar bangsa Indonesia berada.

Kita punya Fakultas Teknologi Mineral (FTM) terbaik di Indonesia. Harusnya, FTM UPNVY, bisa menjadi motor awal untuk mulai dikembangkannya "Condong-Catur School Thought", Mahzab Pemikiran Condong Catur. Mahzab pemikiran original dari kampus kita tercinta...

Seharusnya mulai saat ini para ahli-2 FTM dibantu oleh FE dan FISIP UPNVY mulai riset mendalam untuk merumuskan kebijakan-2 strategis persoalan surplus SDA di Indonesia. Kita harus me-leading-kan isu bahwa SDA Indonesia itu milik Indonesia. Bisa saja nasionalisasi seluruh perusahaan pertambangan asing di Indonesia atau tinjau kembali semua kontrak kerja pertambangan dengan perusahaan asing, atau transfer ilmu pertambangan dengan cara "paksa" pada setiap perusahaan
asing yang beroperasi di Indonesia, termasuk hentikan korupsi dalam setiap kontrak kerja pertambangan. Ini adalah isu-isu penting yang harusnya kita leading-kan. Dengan isu ini kita memimpin bangsa Indonesia.

Saya yakin, jika isu ini menjadi starting point tradisi berpikir kita maka dalam waktu 1 atau 2 dekade ke depan di Indonesia akan didominasi mahzab pemikiran baru yaitu: CONDONG-CATUR SCHOOL OF THOUGHT, Mahzab pemikiran dari kampus kita tercinta...

Mengapa kita tidak mencobanya? Kita punya potensi besar untuk men-überwienden (meng-overcome) mahzab pemikiran dari The Top Big-3 PTN Indonesia. Orang Jerman sering bilang: „Unmöglicher Träum zu schaffen ist unsere Spezialität". Mewujudkan impian yang paling mustahil sekalipun adalah spesialisasi kami…

Seperti orang Jerman, kenapa tidak mulai saat ini saja untuk mewujudkan impian yang paling mustahil tadi untuk menjadi kenyataan….?! !!

Saatnya menurunkan mimpi ke visi, dari visi ke misi, dari misi ke tujuan, dari tujuan ke program kerja dari program kerja ke aksi dan akhirnya kita akan menikmati hasilnya secara nyata…

Semoga saja seluruh sivitas akademika UPNVY mau mewujudkan impian mustahil ini. Membuat tradisi dan mahzab pemikiran baru: „CONDONG-CATUR SCHOOL of THOUGHT…" Semoga…

Hamburg, 26.04.2008
Salam,

Ferizal Ramli*

*Alumnus UPNVY yang bermimpi suatu ketika Condong-Catur School of Thought yang menentukan "hitam-putih" -nya Indonesia…

** Tulisan ini opini dan tanggung jawab pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan institusi yang melekat pada diri penulis.

*** Penulis adalah Projektleiter und SAP-Berater (Project Manager and SAP Consultant), pada sebuah Perusahaan IT dan Management Consultant di Berlin-Jerman. Kontributor dan penulis lepas berbagai surat khabar di Indonesia serta masih berstatus staf pengajar di PT BHMN dan berbagai PTS.

Alumnus UPN "Veteran" Yogyakarta, FAKULTAS "Emperan Auditorium" karena selalu nongkrong di pinggir auditorium dan bolos kuliah, JURUSAN "Pendirian Koperasi Mahasiswa (KOPMA)" dengan "Gelar Sarjana" yang berhasil diraih: Ketua Umum KOPMA UPNVY yang Pertama.

Melanjutkan nyantri di negeri Vaterland Deutschland. Master of Computer Science in Business Consulting dari Pesantren Hochschule Furtwangen, Master of Arts in Daten-und Informations system di Pesantren Universität Hamburg. Saat ini sedang riset Program Doktoral di Jerman.


  kirim ke teman |   versi cetak


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar

 
   
   Album Acak

Klik untuk melihat

Dilihat : 1301
Pengirim : admin
Komentar : 2

 
2001-2006, Jurusan Ilmu Tanah, UPN Yogyakarta